Klaster Berdaya
Model Pembangunan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat
Oleh: Akhta Suendra

Indonesia sebagai Negara berkembang tentunya punya banyak tantangan, terlebih tantangan dalam pembangunan baik pembangunan secara fisik maupun non fisik. Salah satunya adalah tantangan dalam Pembangunan Masyarakat, sejumlah data memperlihatkan tantangan tersebut begitu nyata. Pada Tahun 2016 United Nations Development Program (UNDP) salah satu badan PBB yang mempunyai fokus kepada pembangunan global mengeluarkan sebuah laporan tentang Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Global. Laporan tersebut digunakan untuk mengklasifikasi suatu Negara, apakah disebut sebagai Negara maju, Negara berkembang atau Negara terbelakang terhadap pencapaian kualitas hidup manusia di suatu Negara. Melalui laporan tersebut, Indeks Pembangunan Manusia Indonesia berada di peringkat 113 dari 188 Negara sehingga diklasifikasikan sebagai Negara berkembang, jauh tertinggal dari Negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
Tantangan lainnya muncul dari segi air dan sanitasi, menurut Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan Tahun 2013 baru 66,8% masyarakat Indonesia yang bisa mengakses sumber air layak minum. Bahkan lebih dari 51 juta penduduk Indonesia masih Buang Air Besar Sembarangan (BABS) sesuai dengan laporan Joint Monitoring Programme for Water Supply and Sanitation yang diinisiasi oleh UNICEF dan WHO pada tahun 2015. Kondisi malnutrisi di negeri ini patut diwaspadai, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 mencatat bahwa 37% anak Indonesia menderita gizi buruk dalam bentuk stunting. Jika dibandingkan dengan kondisi Negara lain di kawasan Asia Tenggara angka prevalensi stunting Indonesia lebih tinggi. Stunting berdampak kepada perkembangan kognitif dan kecerdasan anak dan tentunya hal ini akan merugikan Indonesia dari berbagai sisi jika tidak diantisipasi dengan baik.
Angka putus sekolah di Indonesia juga perlu diperhatikan, Pusdatin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat 461.410 jiwa anak putus sekolah dari tingkat SD hingga SMA pada tahun ajar 2014/2015. Yang lebih mencenangkan Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) menempatkan kualitas pendidikan Indonesia di peringkat 69 dari 76 negara, hal ini berdasarkan hasil kajian yang diluncurkan pada tahun 2015 lalu. Rangking tersebut tentunya menjadi tantangan sektor pendidikan untuk meningkatkan kualitasnya. Pada Februari 2016 Badan Pusat Statistik mencatat bahwa angka pengangguran terbuka Indonesia sebanyak 7,02 juta jiwa, dengan melihat banyaknya angka pengangguran terbuka tersebut tantangan Indonesia untuk membuka lapangan perkerjaan terlihat begitu nyata.
Belum lagi ancaman bencana, Indonesia berada di antara 3 lempeng aktif, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik yang sewaktu-waktu bisa mengeluarkan tenaganya sehingga menimbulkan dampak bencana yang massif, sebut saja Gempa Aceh pada tahun 2004 yang menimbulkan Tsunami, Gempa Yogyakarta tahun 2006 yang menyebabkan 6.234 jiwa meninggal dunia. Selain itu Indonesia juga dikenal sebagai Ring of Fire dimana terdapat 127 gunung berapi aktif dan lebih dari 5 juta penduduk yang bertempat tinggal disekitar gunung api aktif tersebut. Untuk itu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada tahun 2013 mengeluarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) dimana terdapat 322 kabupaten/kota dengan indeks risiko bencana tinggi.
Dari sekian banyak tantangan, apakah pembangunan masyarakat hanya terfokus pada masalah? Jawabannya tentu TIDAK, ada potensi besar yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia untuk terus dikembangkan dan menjadi solusi atas permasalahan tersebut. Potensi tersebut bisa menjadi senjata ampuh dalam membangun masyarakat, tentunya potensi yang muncul dari dalam masyarakat dan lingkungan tempat tinggalnya hingga menjadi solusi yang berkelanjutan.
Indonesia dikenal sebagai Negara agraris, Pusdatin Kementerian Pertanian mencatat 39 juta Ha lahan pertanian terbentang dari Sabang hingga Merauke tentunya kondisi ini menjadi nilai plus bagi Indonesia. Belum lagi potensi umur produktif, melalui kajiannya Badan Pusat Statistik memprediksi bahwa pada tahun 2020 - 2030 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi dimana angkatan kerja hingga 70% dari jumlah penduduk. Melalui bonus demografi ini tentunya kualitas penduduk Indonesia akan semakin produktif. World Bank mencatat pada beberapa tahun terakhir Pemerintah Indonesia telah mengalokasikan 16% dari total pengeluaran pemerintah untuk pendidikan. Dari segi ekonomi, Bank Indonesia memberikan statement bahwa dalam kurun waktu 4-5 tahun terakhir, ekonomi Indonesia cenderung stabil, walaupun pada tahun 2015 perkembangannya melambat, tetapi jika dibandingkan Negara lain Indonesia masih stabil. Belum lagi jika melihat lebih dekat ke masyarakat Indonesia, budaya lokal seperti gotong royong, kerjasama, kepedulian menjadi modal sosial dalam pembangunan.
Melihat adanya permasalahan sekaligus potensi yang bisa dikembangkan maka PKPU Human Initiative sebagai NGO yang concern terhadap issue pembangunan masyarakat mengembangkan suatu model pembangunan masyarakat dengan mengacu kepada konsep Pemberdayaan Masyarakat (Community Development) melalui KLASTER BERDAYA. Secara istilah Klaster Berdaya adalah sejumlah program pemberdayaan yang diterapkan di level individu, keluarga maupun lingkungan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan yang berkelanjutan. Melalui Klaster Berdaya, PKPU Human Initiative mencoba memberikan solusi jangka panjang yang tetunya berdampak kepada peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Klaster Berdaya berfokus kepada 3 pilar, yaitu Kampung Berdaya, Keluarga Berdaya dan Pemuda Berdaya, pilar tersebut dipilih sebagai bagian dari sumber daya yang tersedia di masyarakat dan perlu dioptimalkan. Kampung Berdaya misalnya mempunyai tujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan sehingga tercipta ketangguhan masyarakat dalam menciptakan peningkatan kualitas hidup. Sedangkan pilar Keluarga Berdaya, menyasar lingkungan terkecil yaitu keluarga (nuclear family) agar memiliki kemauan, kemampuan dan ketangguhan dalam membangun kemandirian. Sedangkan pilar Pemuda Berdaya, menyasar kepada kelompok umur produktif baik laki-laki dan perempuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya agar bisa menjadi penggerak aktifitas sosial di masyarakat dan siap menjadi kader yang memiliki kompetensi untuk memfasilitasi wilayahnya
Klaster Berdaya melihat kondisi masyarakat secara komprehensif tidak secara parsial, sehingga intervensi yang dilakukan pun secara menyeluruh. Baik intervensi dari segi ekonomi, kesehatan, lingkungan, pendidikan maupun pengurangan risiko bencana dalam suatu wilayah administratif yaitu Desa, dengan pendekatan intervensi secara komprehensif harapannya PKPU Human Initiative bersama masyarakat dan stakeholder dapat memberikan solusi yang berkelanjutan terhadap permasalahan sekaligus melejitkan potensi yang tersedia di masyarakat. Membangun ketangguhan komunitas, membentuk kemandirian masyarakat dan menjaga keberlanjutan program adalah semangat Klaster Berdaya, mengacu kepada prinsip “Helping people to help themselves” PKPU Human Initiative berusaha menempatkan masyarakat sebagai subyek sekaligus obyek pembangunan sehingga partisipasi aktif masyarakat mutlak diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup dirinya sendiri secara mandiri.
Hingga awal 2017 setidaknya telah berdiri 14 Klaster Berdaya di berbagai desa yang tersebar di seluruh Indonesia. Melalui aktivitas pemberdayaannya, program Klaster Berdaya telah memberikan manfaat kepada 415 Keluarga Berdaya, 220 Pemuda Berdaya dan sanggup memfasilitasi terbentuknya 14 Kampung Berdaya. Tentunya capaian tersebut tak lepas dari peran masyarakat, donatur, pemerintah dan stakeholder lainnya yang peduli terhadap kondisi yang ada saat ini serta bersedia membantu hingga memberikan solusi yang komprehesif.

0 komentar:

Posting Komentar

Informasi PKPU Nasional & Internasional

 
Top

Lembaga Kemanusiaan Nasional,peduli yatim, didikan subuh, pengobatan gratis, bantuan sosial, solusi peduli, aksi kebencanaan