Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; InsyaAllah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” __(QS Ash Shaffat ayat 102)


Berapa umur Ismail ketika ia dengan legawa menerima perintah Allah untuk menjadi sembelihan di Jabal Qurban? Beberapa sumber menyatakan yang dimaksud umur yang sanggup itu sekitar 6-7 tahun, ada yang mengatakan 9 tahun, namun ada juga yang menyatakan 13 tahun. Usia yang dimaksud adalah dimana seorang anak sudah dianggap mampu membantu menggembalakan ternak dan mencari rerumputan.

Maka mari kita bandingkan dengan fenomena terbaru anak/remaja jaman sekarang. Usia 13 tahun mengendarai mobil sebelum waktunya, mengantar pacar tepat di tengah malam, mengebut, dan akhirnya menjadi penyebab kecelakaan lalu lintas yang berakibat penghilangan nyawa sejumlah orang.

Mungkin perbandingan ini tidaklah tepat. Karena ada perbedaan zaman dan tantangan tentunya. Tetapi ada sesuatu yang tak dapat kita pungkiri, pendidikan yang diterima Ismail dari Ibrahim sungguh menjadikannya seorang anak yang luar biasa. Ismail secara jelas terukir di dalam Al Qur’an sebagai “Orang yang sabar”

Kalau ingin dikait-kaitkan peristiwa heboh dan memancing diskusi nasional ini (soal anak usia 13 tahun tadi) dengan qurban bisa jadi dimensinya akan menjadi luas. Misalnya, daripada membelikan seseorang yang belum berhak punya SIM sebuah mobil mewah, bagaimana jika untuk berqurban saja. Bayangkan berapa banyak pengungsi Rohingya yang dapat menyantap daging qurban dari sejumlah hewan qurban senilai lebih dari 400 juta rupiah. Namun, saya tak ingin berbicara tentang itu. Lebih kepada faktor edukasi kepada anak atau remaja tentang pentingnya berqurban.

Bicara berqurban berarti bicara keikhlasan. Ketika seseorang yang sudah mampu, dengan senang hati dan terpanggil untuk berqurban, ia telah menjalani sebuah keikhlasan. Bisa jadi seseorang menunda pembelian ponsel terbaru, karena lebih besar keinginannya untuk berqurban.

Berqurban adalah berbagi. Berbagi kebahagiaan dengan orang-orang miskin dan dhuafa utamanya, yang hanya makan daging beberapa kali dalam setahun, ketika menghadiri hajatan pernikahan, ketika iedul fitri dan ketika iedul Adha. Saya tidak sedang bercanda. Saya memang bertemu dengan orang-orang yang makan daging hanya di tiga kesempatan ini. Kadang-kadang ada tambahan, ketika ada acara sahur atau buka on the road, buka shaum bersama, atau beberapa undangan makan bersama. Daging menjelma kemustahilan terhidang tanpa sebuah alasan kuat untuk membuatnya ada di meja makan.

Jika Ismail ikhlas disembelih karena perintah Allah, apakah begitu sulitnya mengedukasi anak-anak kita yang tumbuh remaja untuk belajar bersabar dan ikhlas menjalani ketentuan tumbuh kembangnya. Bahwa remaja adalah masa pencarian jati diri. Maka orang tuanyalah yang semestinya membimbingnya agar bersabar dalam prosesnya. 

Bahwa SIM didapat ketika seseorang telah berusia 17 tahun dan tentu, sudah lulus tes mendapatkan izin mengemudi tersebut. Jika di usia 13 tahun ia telah mempunyai kekasih, berapa banyak waktu tumbuh kembangnya terkuras untuk merawat hubungan dan memenuhi kebutuhan sebuah “atas nama kasih sayang” tersebut.

Dalam momen qurban yang semakin dekat, kita harus banyak belajar dari Ismail. Banyak belajar dari Ibrahim. Perlu senarai ikhtiar yang sistematis dan terstruktur dalam atmosfer pendidikan yang kondusif. Senantiasa ikhtiar itu dilangitkan bersama doa-doa kepada Allah Yang Maha Besar.  

Seperti Ibrahim berkata dalam doanya: "Wahai Tuhanku! Aku telah tempatkan puteraku dan anak-anak keturunannya di dekat rumah-Mu (Baitullahil Haram) di lembah yang sunyi dari tanaman dan manusia agar mereka mendirikan sholat dan beribadat kepada-Mu. Jadikanlah hati sebahagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan yang lezat, mudah-mudahan mereka bersyukur kepada-Mu.". *) Rahma Damayanty,

Sebar Qurban PKPU Solo Call 081327943137 , 0271 - 738282
Office : Jl Letjen Suprapto No 15 Surakarta




0 komentar:

Posting Komentar

Informasi PKPU Nasional & Internasional

 
Top

Lembaga Kemanusiaan Nasional,peduli yatim, didikan subuh, pengobatan gratis, bantuan sosial, solusi peduli, aksi kebencanaan